1. Bagaimana
proses berfikir ilmiah dikaitkan dengan penalaran itu sendiri? (menguraikan
dengan mencari kasus dan di analisis)
Manusia
adalah makhluk ciptaan Tuhan yang dilengkapi dengan akal dan pikiran. Akal
digunakan manusia untuk berpikir, berpikir merupakan sebuah kegiatan
mental yang menghasilkan pengetahuan. Jadi apabila manusia benar-benar
memaksimalkan fungsi otaknya untuk berpikir dalam menemukan pengetahuan atau
menghasilkan pengetahuan termasuk kategori berpikir ilmiah. Maka dengan
kemampuan berpikirnya manusia bisa mengembangkan pemikirannya lebih luas
dan lebih logis. Pemikiran logis yang kita gunakan untuk berpikir akan
menghasilkan suatu penalaran, Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu
mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaannya. Penalaran hanya
terkait dengan berpikir sadar dan aktif, dan mempunyai karakteristik tertentu
untuk menemukan kebenaran. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan
dengan cara berpikir bukan dengan perasaan.
Contoh kasus :
Kasus
ini menimpa seorang siswi yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP di Ciledug,
Kota Tangerang. Ia diculik seorang pria bernama Akar alias Gintala Lugaska (28)
yang mengaku mahasiswa semester lima perguruan tinggi swasta di Yogyakart.
Selama dalam penculikan dengan waktu enam hari, Akar membawa gadis imut
tersebut ke tiga kota, yakni Temanggung, Wonosobo, dan Purwokerto, Jawa Tengah.
Akar berhasil dibekuk Satreskrim Polres Metro Tangerang di salah satu rumah
makan di Purwokerto, 15 Januari 2014. Menurut Kasatreskrim Polres Metro
Tangerang Kota AKBP Sutarmo, pelaku bersama korban I, sempat berpindah-pindah
kota di Jawa Tengah dari Temanggung ke Wonosobo kemudian ke Purwokerto.
Kasus
penculikan ini berawal dari laporan ibu korban, Melda ke Polsek Ciledug yang
mengaku kehilangan putrinya. Namun, setelah diselidiki ternyata siswi SMP kelas
tiga itu dibawa lari oleh pria yang dikenalnya lewat Facebook. Yang mengagetkan
pelaku meminta uang tebusan sebesar Rp 700 ribu kepada keluarga korban. Pelaku
mengancam kalau tidak dikirimi uang oleh orangtuanya, korban akan berbadan dua
atau akan dibuat hilang anggota tubuhnya. Saat ditamgkap petugas, pelaku
mengaku uang itu untuk biaya makan.
Analisis :
Pada
dasar nya kita sebagai wanita jangan mudah percaya pada laki-laki begitu aja
apa lagi dengan laki-laki yang hanya kita kenal lewat social media, karena kita
tidak tau apa yang laki-laki itu rencanakan saat pertama kali mengajak bertemu.
Seperti yang terjadi pada kasus siswi SMP di atas laki-laki yang dikenalnya
lewat facebook itu menculik dan meminta uang tebusan kepada keluarga korban,
hal itu sebenarnya bisa saja di hindari jika korban tersebut bisa lebih
berhati-hati saat memutuskan untuk bertemu dengan laki-laki itu.
2. Carilah sikap-sikap ilmiah yang ada kaitannya dengan metode
ilmiah. (berikan contoh kasusnya)
Orang yang berjiwa ilmiah adalah orang yang memiliki tujuh
macam sikap ilmiah. Ketujuh macam sikap ilmiah tersebut adalah sikap ingin
tahu, kritis, terbuka, objektif, rela menghargai karya orang lain, berani
mempertahankan kebenaran dan menjangkau ke depan.
Penjelasan ketujuh
sikap tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sikap ingin tahu diwujudkan dengan selalu bertanya-tanya
tentang berbagai hal. Mengapa demikian? Apa saja unsur-unsurnya? Bagaimana
kalau diganti dengan komponen yang lain? Dan seterusnya.
2. Sikap kritis direalisasikan dengan mencari informasi
sebanyak-banyaknya, baik dengan jalan bertanya kepada siapa saja yang
diperkirakan mengetahui masalah maupun dengan membaca sebelum menentukan
pendapat untuk ditulis.
3. Sikap terbuka dinyatakan dengan selalu bersedia mendengarkan
keterangan dan argumentasi orang lain.
4. Sikap objektif diperlihatkan dengan cara menyatakan apa
adanya, tanpa dibarengi perasaan pribadi.
5. Sikap rela menghargai karya orang lain diwujudkan dengan
mengutip dan menyatakan terima kasih atas karangan orang lain, dan
menganggapnya sebagai karya yang orisinal milik pengarangnya.
6. Sikap berani mempertahankan kebenaran diwujudkan dengan
membela fakta atas hasil penelitiannya.
7. Sikap menjangkau ke depan dibuktikan dengan sikap futuristic,
yaitu berpandangan jauh, mampu membuat hipotesis dan membuktikannya dan bahkan
mampu menyusun suatu teori baru. Demikianlah sikap-sikap yang perlu dipahami
dan diwujudkan apabila kita ingin menjadi penulis karangan ilmiah. Semoga
tulisan kecil dan sederhana ini bermanfaat bagi kita.
Contoh kasus
Mahasiswa diwajibkan
untuk membuat suatu karya ilmiah yang hasilnya dilaporkan dalam Penulisan
Ilmiah, namun saat penelitian berjalan mahasiswa tersebut mengalami banyak kesulitan,
dari kesulitan menemukan judul atau tema, menentukan objek penelitian,
menentukan alat analisis sampai kesulitan mendapat persetujuan dari dosen
pembimbing. Namun mahasiswa ini berusaha bertanya kepada teman dan dosen
pembimbing agar kesulitan nya dalam mengerjakan penelitian dapat teratasi.
Walau menerima banyak kesulitan dan penolokan dari dosen pembimbing mahasiswa
ini selalu tekun dan terus berusahaan mengererjakan penelitian ilmiah tersebut
tanpa mengenal lelah, walaupun terkadang keinginan untuk menyerah muncul karena
kesulitan tersebut mahasiswa ini berusaha untuk tetap mengerjakan
penelitiannya.
3. Membedakan
karangan ilmiah dan tidak ilmiah
Pengertian Karangan
karangan
adalah hasil rangkaian kegiatan seseorang dalam mengungkapkan gagasan atau buah
pikirannya melalui bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh orang
lain yang membacanya.
1. Karangan
ilmiah
Karangan ilmiah adalah biasa
disebut karya ilmiah, yakni laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan
hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau
sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan
ditaati oleh masyarakat keilmuan. Ada berbagai jenis karya ilmiah, antara lain
laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang
pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data,
simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut
dijadikan acuan bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian
selanjutnya.
2. Karangan
Non Ilmiah
Karya
non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan
dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung
fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa
digunakan (tidak terlalu formal).
Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah, yaitu:
·
Ditulis berdasarkan fakta pribadi
·
Fakta yang disimpulkan subyektif
·
Gaya bahasa konotatif dan popular
·
Tidak memuat hipotesis
·
Penyajian dibarengi dengan sejarah
·
Bersifat imajinatif
·
Situasi didramatisir
·
Bersifat persuasive
·
Tanpa dukungan bukti
Jenis-jenis yang termasuk karya
non-ilmiah, yaitu:
·
Dongeng
·
Cerpen
·
Novel
·
Drama
·
Roman
Perbedaan Karya Ilmiah dan Non Ilmiah
Istilah
karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui
orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga
sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari
bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah
baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya
memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat
dicermati dari beberapa aspek. Karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu
hasil penelitian (faktual objektif).
Faktual
objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti.
Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau observasi. Karya ilmiah
bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode
atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol
melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.
Dalam
pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata
lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah.
Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam
melakukan pengklasifikasian. Karya nonilmiah sangat bervariasi topik dan cara
penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum. Karangan nonilmiah
ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya
bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun
kadang-kadang juga formal dan teknis. Karya nonilmiah bersifat, antara lain :
·
Emotif : merupakan kemewahan dan cinta
lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit
informasi
· Persuasif : merupakan penilaian fakta
tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir
pembaca dan cukup informative
·
Deskriptif : merupakan pendapat pribadi,
sebagian imajinatif dan subjektif, dan Jika kritik adakalanya tanpa dukungan
bukti.
Contoh karangan non ilmiah
Tak
ada yang lebih aneh dari pada terbangun pada sebuah sore gerimis di bulan suci
dan mendapati dirinya penuh mengingat mimpi yang baru saja turun dalam lelap
satu menit lalu; ia seorang bejat yang tak pernah salat- bermimpi bertemu
Muhammad. Bagaimana bisa?
Inilah
yang dikerjakannya setiap hari, bangun menjelang siang setelah malamnya
menghabiskan berbotol-botol bir bersama teman-teman di depan kios tattonya.
Tidak ada yang pernah benar-benar tahu siapa nama aselinya. Semua orang
memanggilnya Cimeng, tentu itu bukan nama aslinya. Kulitnya gelap dan dia
menggambarinya dengan tatto berwarna-warni. Dia menyebutnya seni,
teman-temannya menyebutnya keren, anak-anak ABG menyebutnya anak punk, sedang
tetangga-tetangga yang sudah pasti tidak menyukai kios tattonya menyebutnya
berandal.
Pencerita
mimpi siang itu sangat baik pada dirinya. Tentu saja ia heran, dirinya yang
selama ini menganggap dunia brengsek maka dia harus menjadi seorang brengsek
pula, tiba-tiba menjadi orang terpilih yang bertemu Muhammad dalam mimpinya. Ia
tak tahu apa artinya, tapi mimpi itu sangat jelas. Hanya ada satu yang tidak
jelas; wajah Muhammad.
Telah
10 hari bulan Ramadhan, dan ia baru tiga kali benar-benar berpuasa. Siang saat
ia bermimpi bertemu Muhammad adalah hari dirinya berpuasa untuk yang ketiga
kalinya. Bukan karena merasa wajib, tetapi karena hari itu ia malas keluar dari
rumah sewanya untuk membeli makanan. Hari itu diisinya dengan tidur dan baru
terbangun saat aroma bunga menyeruak hidung bercampur denting gerimis yang
membawa aroma tanah. Matanya terbuka, ia ngulet ke arah matahari datang.
Jendela terbuka menyuguhkan pemandangan mozaik, sedikit linglung merasa tak
pasti apakah itu pagi atau sore. Ia dibangunkan oleh mimpi yang aneh; lelaki
itu penuh wibawa berdiri di atas buroq; kendaraan yang konon lebih cepat dari
cahaya dan membawanya ke lapis langit ketujuh.
*
Saat
terbangun, ia melihat pemandangan matahari kemerahan di balik jendela terbuka,
gerimis, serta pohon kamboja di sebelah rumahnya yang bertetangga dengan
kuburan kecil menyeruak aroma bunga merah muda. Ia mengingat-ingat, apakah saat
itu pagi atau senja. Usianya baru tujuh tahun tapi ia sanggup berpuasa penuh.
Ibunya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu menyapa dengan lembut,
"Qatrun, salat asar dulu. Sebentar lagi magrib." Kini ia tahu,
dirinya terbangun pada sebuah sore gerimis di bulan suci. Ia tak bergegas,
mengingat-ingat mimpinya satu menit yang lalu. Sebuah mimpi yang jelas, hanya
satu yang tidak begitu jelas; wajah Muhammad dalam mimpinya.
Sehabis
berbuka puasa dan magrib lewat, Qatrun kecil mengambil sarung dan peci.
Teman-temannya berteriak memanggil-manggil namanya di depan rumah, mengajak
pergi ke surau berbarengan untuk tarawih. Kali ini setelah tarawih selesai ia
tidak langsung pulang. Bahkan saat teman-teman merayunya dengan segenggam
mercon yang disembunyikan di balik sarung untuk diledakkan di perempatan jalan,
Qatrun tetap berada di surau dan menunggu sepi, ingin berbicara dengan Ustaz.
"Ustaz, aku bermimpi aneh."
"Mimpi apa?"
"Muhammad."
"Kau mimpi bertemu Muhammad?" ia harus mengakui ada rasa iri menyelip. Bahkan dirinya yang sudah berumur dan menganggap cukup taat belum pernah mimpi bersua Muhammad.
"Kau mimpi bertemu Muhammad?" ia harus mengakui ada rasa iri menyelip. Bahkan dirinya yang sudah berumur dan menganggap cukup taat belum pernah mimpi bersua Muhammad.
"Bagaimana ia?"
"Ia berdiri di atas buroq dengan
wajah yang tidak begitu jelas dan menatap ke arah kami."
"Kami?"
"Aku dan sekelompok orang. Tetapi mereka tidak ada yang percaya kalau dia Muhammad. Hanya aku dan seorang laki-laki beraroma minuman keras yang berdiri di sebelahku yang percaya."
"Aku dan sekelompok orang. Tetapi mereka tidak ada yang percaya kalau dia Muhammad. Hanya aku dan seorang laki-laki beraroma minuman keras yang berdiri di sebelahku yang percaya."
"Lelaki
beraroma minuman keras?" tanya Ustaz setengah sanksi. Qatrun mengangguk
yakin, "seperti apa buroq?"
"Seperti sampan panjang,"
"Lalu bagaimana kau tahu Muhammad
naik buroq, bukan naik sampan?"
"Aku tahu, Ustaz! Itu buroq, bukan
sampan."
*
Menjelang
magrib, laki-laki yang dipanggil Cimeng itu berjalan ke mini market dekat rumah
sewanya dan membeli roti tawar untuk makan. Ia masih tetap mengingat-ingat
mimpinya tadi. Ada sekelompok orang, namun hanya dirinya dan seorang bocah yang
percaya bahwa lelaki yang berdiri di atas buroq itu adalah Muhammad. Usai makan
dan mandi, tangannya tergerak. Ia mengambil jarum tatto dan mulai menggambar di
lengannya. Sebuah sampan berwarna hijau dan sebuah lingkar di atas sampan
berwarna kuning. Warna cahaya.
*
Qatrun
tahu, minum keras itu beraroma seperti apa walaupun ia tak pernah menyentuhnya
barang sedikit. Ia mengenali warna raut wajah memerah jika seseorang mabuk. Ia
juga tahu bahwa minuman keras itulah yang menyebabkan ibunya memar-memar.
Malam-malam saat ayahnya masih agak sering pulang ke rumah dalam keadaan teler,
ibu selalu menunggu hingga tertidur di kursi panjang yang tak patut disebut
sebagai sofa di ruang depan rumahnya yang kecil. Saat pulang, tak jarang
ayahnya membawa aroma sangit keringat bercampur minuman keras, penat yang
sangat, serta sedikit uang hasil menyupir truk. Itu bukan pemandangan baru bagi
Qatrun. Jika ibu bertanya habis dari mana, tangan ayahnya melayang ke pipi ibu,
meninggalkan bekas memerah. Sedang ia akan terbangun, mengintip dari balik
tirai pintu. Hingga suatu hari ayahnya tak pernah kembali walaupun ibu masih
menunggu pada malam-malam setelah isya' didirikan dan mengambil selembar bantal
tipis untuk menyangga lehernya di kursi panjang di ruang tamu mereka yang
kecil.
Di
kamarnya yang kecil, Qatrun menggambar. Sebuah sampan panjang berwarna hijau
terang, dan sebuah lingkar di atas sampan yang dikelir warna kuning. Warna
cahaya.
*
Walau
sekarang Ramadhan, dan Cimeng mengaku beragama Islam, ia tetap tidak puasa,
tentu saja. Ia sedang menerima order tindik di lidah seorang anak usia SMA.
"Gambar apaan nih?" tanya ABG itu. Lengan Cimeng yang terbuka memperlihatkan tatto-tattonya yang sudah tak terhitung. Anak itu tertarik pada sebuah tatto yang baru dibuatnya dua hari lalu.
"Gambar apaan nih?" tanya ABG itu. Lengan Cimeng yang terbuka memperlihatkan tatto-tattonya yang sudah tak terhitung. Anak itu tertarik pada sebuah tatto yang baru dibuatnya dua hari lalu.
"Ini...," ia urung
menjelaskan, "nurut elo gambar apa?"
"Bola naik perahu ya?" Cimeng
hanya tersenyum atas jawaban si ABG.
Kios
tatto di rumah sewanya baru sepi menjelang siang. Cimeng duduk terdiam, ia
tiba-tiba merasa lelah sekali. Dihitungnya sudah berapa lama dia pergi dari
rumah dan tak kembali. Ia hanya mengirimkan sesekali surat untuk rumahnya saja.
Tapi dia tak pernah benar-benar tahu apa yang ingin ditulisnya. Ibunya selalu
bertanya, kapan akan pulang. Semakin banyak tatto dan tindik yang dia buat di
tubuhnya, semakin urung pula ia pulang. Walau kadang-kadang ingin.
*
Malam berikut saat buka puasa Qatrun menunjukkan gambar itu pada ibunya.
"Gambar apa ini? Ibu ndak ngerti."
Malam berikut saat buka puasa Qatrun menunjukkan gambar itu pada ibunya.
"Gambar apa ini? Ibu ndak ngerti."
"Ini gambar mimpiku, Bu."
"Mimpi apa?"
"Ini
Muhammad," katanya menunjuk gambar lingkar berwarna kuning, "ini
buroq, kendaraan saat Muhammad pergi ke langit ketujuh bersama malaikat."
"Kapan kamu mimpi ini?"
"Kemarin, waktu tidur siang."
Ibunya
terharu, mengelus pelan rambut anaknya. Seperti biasa, Qatrun selalu pergi ke
masjid untuk tarawih. Selesai tarawih kali itu pula ia tak langsung pulang.
Ditunjukkannya gambarnya pada Ustaz dan beberapa teman lain. Ia jelaskan,
gambar itu adalah Muhammad sedang naik buroq.
"Qatrun,
hanya orang-orang terpilih yang bisa ditemui Muhammad di mimpinya," ujar
Ustaz.
"Apakah itu berarti aku orang terpilih?"
"Apakah itu berarti aku orang terpilih?"
"Kau
yakin tak berbohong atas cerita mimpimu itu? Berbohong itu dosa."
Teman-teman yang tadinya antusias mendengar cerita Qatrun bermimpi bertemu Muhammad,
jadi terdiam. Memandang bergantian antara Qatrun dan Ustaz. Qatrun kecewa akan
perkataan Ustaznya. Ia mengambil gambar itu.
Pergi
dari surau dan tak pernah datang lagi untuk salat subuh, atau magrib, atau isya
atau tarawih. Gambar itu diletakkan begitu saja di atas meja. Tak pernah ia
menyentuhnya lagi, hingga gambar itu hilang entah ke mana. Qatrun sekarang
lebih suka membuat bermacam-macam gambar di bukunya. Tak hanya buku gambar,
tapi buku tulis sekolah juga jadi penuh gambar. Ia tak hanya menggambar gunung,
sawah dan rumah kecil. Kini gambar-gambarnya jadi berragam dan makin rumit.
Qatrun pun jadi pendiam, hingga suatu hari dia bercita-cita akan meninggalkan
rumah jika sekolah selesai.
*
Kios
tatto hari itu ditutup, rumah sewa juga tutup. Anak-anak punk dan ABG yang
sering mangkal di situ heran karena rumah itu tiba-tiba tutup dan digembok.
Cimeng pergi mematikan HP-nya setelah sebelumnya dia mengirimkan sebuah SMS ke
seorang temannya. Gue mudik, bunyi SMS itu.
Ia
tak percaya, kampung kecil itu dijejakkinya lagi. Ia tak yakin ibu dan
teman-temannya masih mengenalinya setelah pergi dari kampung itu tujuh tahun
yang lalu, mengingat begitu banyak tatto dan tindik di tubuhnya sekarang. Ia
khawatir ibunya tak mengenalinya. Saat ia sampai dan mengetok-ngetok pintu,
rumah kecil itu tak dikunci. Cimeng masuk tanpa permisi. Seorang perempuan
paruh baya berjilbab tertidur di kursi panjang yang tak bisa disebut sofa
dengan sebuah bantal tipis menyangga lehernya. Selembar kertas bergambar sebuah
sampan berwarna hijau dan lingkaran kuning keemasan berada di dekapannya.
Bertahun-tahun, dan anaknya tak pernah tahu bahwa ia masih menyimpan gambar
itu. Ibu, Qatrun pulang.
Sumber :
http://lolikumalasari.blogspot.co.id/2016_03_01_archive.html?m=1
http://www.kompasiana.com/sukowaspodo_99/7-macam-sikap-ilmiah_54f672b8a3331184108b4bba
http://gatotbukankaca.weebly.com/bahasa-indonesia-2-karangan-ilmiah-non-ilmiah-dan-ilmiah-populer.html
http://heriz-heri.blogspot.com/2011/10/wacana-non-ilmiah-dengan-contoh-cerpen.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar